twitter
rss

Selama menjalani mata kuliah ini, manfaat  yang paling saya rasakan adalah saya bisa belajar menjadi individu yang dewasa karena dalam mata kuliah ini kami tidak hanya belajar bagaimana cara memberikan pengajaran bagi orang dewasa tapi juga belajar menjadi bagian dari orang dewasa itu sendiri.


Belajar menjadi orang dewasa bukanlah hal yang mudah. Banyak sekali tuntutan-tuntutan serta kewajiban yang harus dijalankan. Tetapi karena itulah saya merasa tertantang untuk bisa menjadi seorang individu dewasa yang baik.

Kesan selama mengiktu mata kuliah ini adalah menyenangkan karena banyak sekali kegiatan yang dapat memberikan pengalaman yang belum pernah dirasakan sebelumnya seperti belajar membuat coklat dan membuat sushi. Kemudian karena peserta mata kuliah ini sedikit, ada rasa kekeluargaan serta kedekatan dengan seluruh peserta serta dosen pengampunya.

Kritik dan saran untuk mata kuliah ini adalah diharapkan kegiatan-kegiatan selama perkuliahan lebih menarik lagi agar peserta yang mengikutinya bisa mendapatkan pengalaman yang belum didapatkan sebelumnya.

Terima kasih kepada seluruh teman-teman mata kuliah ini serta Ibu Dina yang telah terlibat dalam proses pendewasaan diri dan pengalaman selama mengikuti mata kuliah ini.

Soal 1:
Perhatikan laporan evaluasi performa kelompok anda. Berdasarkan prosedur evaluasi menurut Morgan pada langkah 1, apakah kelompok anda telah melakukannya dengan maksimal? Coba jelaskan apa yang sudah anda lakukan bersama kelompok berdasarkan langkah 1 saja.Jika anda belum melakukan dengan maksimal, penjelasan apakah yang dapat anda sampaikan pada kertas ujian ini

Prosedur evaluasi menurut Morgan pada langkah satu yaitu mengecek tujuan. Pada kelompok kami, tujuan dari performa kelompok telah dijelaskan, yaitu agar peserta dapat melakukan keterampilan dalam membuat cokelat dengan isi stoberi. Namun dalam pelaksanaannya kelompok tidak melakukannya dengan maksimal. Kelompok kurang eksplisit dalam menjelaskan tujuan dari demonstrasi ini sehingga saat peserta melakukan keterampilan ini, tujuan yang diharapkan masih belum tercapai.

Kelompok demonstrasi seharusnya bisa menjelaskan lebih rinci mengenai tujuan performa demonstrasi yang akan dilakukan peserta agar hasil yang diharapkan dapat dimengerti oleh peserta dan peserta dapat membuat hasil sesuai dengan tujuan awal tersebut. Tetapi kelompok hanya menyebutkan tujuannya tanpa menjelaskan lebih rinci mengenai hal tersebut. Hal ini berakibat pada pencapaian oleh peserta yang kurang maksimal. Terlihat pada saat melakukan keterampilan, ada peserta yang tidak bisa memberikan hasil sesuai dengan indikator penilaian dari fasilitator.


Soal 2:
Jika selanjutnya kita melihat langkah ke 3 prosedur evaluasi menurut Morgan, apakah yang sudah kelompok anda lakukan dengan maksimal? Jika anda baru menyadarinya sekarang, bagaimanakah seharusnya laporan evaluasi kelompok anda?

Langkah ketiga yaitu mengumpulkan bukti. Dalam mengumpulkan bukti kelompok belum melakukannya dengan maksmal.  Sesuai dengan prosedur evaluasi, dalam mengumpulkan bukti ada tiga waktu dalam pengembangan kegiatan pendidikan orang dewasa yaitu:
a. Sebelum kegiatan dimulai.  Hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana kemampuan awal peserta sebelum performa.
b. Saat kegiatan berlangsung. Bukti dikumpulkan saat kegiatan namun belum berakhir, untuk melihat kemajuan peserta.
c. Akhir kegiatan.  Bukti yang dikumpulkan untuk melihat sejauh mana peserta berhasil melakukan kegiatan.

Kelompok hanya melakukan dua dari tiga waktu dalam mengumpulkan bukti  yaitu saat melakukan kegiatan dan saat akhir kegiatan. Seharusnya kelompok melihat kemampuan awal peserta untuk melihat kemajuan dari peningkatan keterampilan peserta. Inilah yang membuat laporan hasil evaluasi yang dibuat oleh kelompok belum menunjukkan hasil yang maksimal.

Bentuk laporan hasil evaluasi kelompok seharusnya terbagi atas tiga bagian, sesuai dengan pembagian waktu diatas. Hal ini dilakukan agar peserta dapat melihat sendiri pencapaian dari kegiatan yang mereka lakukan. Peserta dapat melihatnya dari bukti-bukti yang disajikan oleh fasilitator mulai dari awal kegiatan hingga akhir kegiatan. Kemudian bentuk laporan seperti itu juga akan memperlihatkan apakah peserta telah berhasil mencapai tujuan performa yang sudah ditetapkan diawal kegiatan sehingga masing-masing peserta dapat mengevaluasi dan melihat sendiri kemajuan yang telah dicapainya selama kegiatan performa berlangsung.

Soal pertama.
Coba jelaskan, berdasarkan evaluasi kinerja kelompok anda, prinsip mana saja yang telah anda lakukan?

Berdasarkan evaluasi kerja kelompok, maka prinsip evaluasi yang digunakan menurut Morgan, et al adalah :
1. Mempunyai tujuan yang pasti. Evaluasi dilakukan karena ingin melihat hasil yang telah diberikan oleh para peserta demonstrasi. Hal ini agar nantinya terlihat apakah para peserta sudah memahami tujuan dari pelaksanaan demonstrasi dan ingin melihat sejauh mana tingkat keberhasilan peserta.

2. Mengggunakan tujuan perilaku yang terjangkau dan pasti. Tujuan dari kelompok demonstrasi adalah agar peserta mampu membuat coklat dengan isi stroberi. Tujuan dari performa ini jelas dan pasti, serta hasilnya dapat diukur dan dilihat sehingga memudahkan peserta dalam melakukan tugasnya.

3. Bukti tentang perubahan dalam diri individu. Bukti ini terlihat saat beberapa peserta berhasil membuat coklat seperti yang diharapkan.Ini menunjukkan adanya perubahan dari para peserta yang awalnya tidak tahu dan tidak bisa mengolah coklat hingga menjadi bisa dan terbukti dari hasil yang ditampilkan.

4. Menggunakan instrumen yang tepat dalam evaluasi. Instrumen yang diberikan berupa catatan yang dilakukan oleh fasilitator saat peserta melakukan demonstrasi. Hasil yang didapat berbeda antara satu kelompok dengan yang lainnya. Dari sini fasilitator bisa melihat apakah peserta sudah berhasil seperti yang diharapkan.

5. Kerjasama antara peneliti dengan orang yang dinilai kemajuannya. Kerjasama ini perlu agar peserta mengetahui tujuan dari demonstrasi yang dilakukan oleh fasilitator sehingga peserta lebih mudah dan lebih termotivasi dalam mencapai tujuan tersebut.

Prinsip-prinsip diatas dilakukan sesuai dengan hasil evaluasi kelompok performa demonstrasi terhadap para peserta yang mengikuti kegiatan pada hari itu.


 Soal kedua.
Prosedur evaluasi seperti apakah yang anda lakukan bersama kelompok sehubungan dengan evaluasi performa kelompok anda?

Prosedurr evaluasi yang dilakukan bersama kelompok sesuai dengan teori oleh Ibrahim (2003) dan Soedartomo (2005) yaitu :
(1) menentukan tujuan dan kebutuhan,
(2) menentukan kriteria atau standar,
(3) melakukan observasi atau pengumpulan data,
(4) melakukan analisis data,
(5) melakukan perbandingan hasil dengan standar, dan
(6) membuat penilaian atau pertimbangan.

Berikut penjelasan dalam prosedur yang telah dilakukan oleh kelompok demonstrasi.

1. Menentukan tujuan dan kebutuhan. Tujuan evaluasi ini adalah agar dapat melihat sejauh mana peserta memahami dan mampu untuk membuat coklat dengan isi stroberi sesuai dengan yang diarapkan.

2. Menentukan kriteria atau standar. Standar yang dibuat oleh fasilitator adalah coklat yang dibuat haruslah bagus, yaitu tidak tercampur dengan air dan mengeras namun tidak bantat.


3. Melakukan observasi atau pengumpulan data. Observasi dilakukan oleh masing-masing fasilitator saat peserta membuat coklat dikelompoknya masing-masing. Fasilitator melihat apakah langkah-langkah yang mereka lakukan sesuai dan apakah hasil yang diperoleh maksimal.

4. Melakukan analisis data. Disini kelompok menganalisis hasil observasi yang diperoleh sebelumnya. Dari hasil analisis ini dapat diketahui apakah ada kelompok yang kurang mampu menampilkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.

5. Melakukan perbandingan hasil dengan standar. Setelah didapatkan hasil, kelompok membandingkannya dengan standar yang telah dibuat sebelumnya. Disini terlihat bahwa ada kelompok yang hasilnya tidak sesuai dengan standar yang telah dibuat oleh kelompok demonstrasi. Misalnya, ada kelompok yang cokelatnya bantat dan kurang sempurna karena dalam pelaksanaanya cokelat telah tercampur dengan air.

6. Membuat penilaian atau pertimbangan. Setelah melakukan prosedur diatas, maka dapat dibuat penilaian mengenai kinerja kelompok peserta. Dari hasil penilaian, maka ada satu kelompok yang berhasil membuat cokelat sesuai yang diharapkan, satu kelompok yang tidak berhasil sempurna karena telah tercampur air, dan satu kelompok lainnya berada ditengah-tengah, yang artinya kelompok berhasilmembuat cokelat, namun hasilnya masih kurang maksimal.


Daftar pustaka:
Suprijanto. 2007. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara



Testimonial Simulasi UAS Online
UAS online yang dilakukan untuk mata kuliah Andragogi bukan pengalaman yang baru, karena sebelumnya sudah pernah dilakukan pada saat menjalani mata kuliah Psikologi Pendidikan. Namun, perbedaan terlihat saat simulasi UAS online untuk mata kuliah hari ini dilakukan.

Jika sebelumnya soal UAS diberikan dirumah dan diberikan waktu yang cukup panjang untuk mengerjakannya, pada simulasi ini kami harus mengerjakannya ditempat, yaitu diruang ujian. Waktu yang diberikan sama dengan ujian pada umumnya. Yang berbeda adalah soal yang diberikan tidak langsung sekaligus, melainkan satu-persatu. jika belum selesai menjawab pertanyaan yang pertama, maka soal yang selanjutnya tidak diberikan. Hal ini bagus agar mahasiswa dapat me-manage waktu yang ada dalam mengerjakan soal ujian.

Pada simulasi ini terlihat gambaran yang akan dihadapi pada saat ujian yang sesuangguhnya. Meskipun begitu, tetap perlu ada persiapan yang harus dilakukan dalam menjalani ujian UAS nanti.

Farah Oktamurdiantri        09-085


Kegiatan kelompok demonstrasi dilakukan pada hari Kamis tanggal 14 April 2011 di ruang 2B Fakultas Psikologi USU, yang bertepatan dengan matakuliah andragogi. Kelompok kami menampilkan cara membuat cokelat yang berisi buah stroberi di dalamnya. Dengan bahan dan langkah-langkah yang sederhana, kami mengharapkan seluruh peserta dapat memahami dan melakukan keterampilan ini.
Performa yang kami lakukan sudah cukup baik, meskipun masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya. Kemudian adanya kendala-kendala teknis yang terjadi di luar kendali fasilitator membuat kegiatan ini sedikit terhambat dalam segi waktu.
Secara keseluruhaan, evaluasi kelompok demonstrasi adalah sebagai berikut:
Kelebihan :
-          Bahan yang digunakan sederhana yaitu cokelat dan stoberi
-          Langkah-langkah pengerjaannya mudah.
-          Waktu pengerjaan yang relatif cepat serta alat yang mudah didapat memudahkan peserta dalam mempraktekkan.
-          Dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu luang.
-          Hasil performa dapat dijual.
Kekurangan :
-          Dalam pelaksanaannya, fasilitator mengalami kesulitan karena terhambat masalah teknis.
-          Adanya instruksi yang mungkin kurang dimengerti oleh peserta sehingga ada peserta yang gagal melakukan demonstrasi.
-          Fasilitator tidak memperkirakan waktu sehingga tidak bisa menampilkan hasil yang maksimal.
-          Fasilitator kurang mengatur situasi pelaksanaan demonstrasi pada saat akhir pelaksanaan.
Hasil yang dibuat oleh peserta juga termasuk dalam evaluasi kelompok. Berdasarkan hasil pengamatan dari fasilitator, berikut adalah evaluasi hasil kelompok peserta :
-          Kelompok Diskusi : cokelat yang dibuat berhasil. Secara keseluruhan menampilkan hasil yang maksimal namun agak kurang dari segi kebersihan.
-          Kelompok Karya Wisata : hasil sudah mendekati seperti yang ditunjukkan oleh fasilitator. Namun masih kurang dalam kebersihan dan kelompok tidak menggunakan seluruh coklat yang diberikan.
-          Kelompok Pelatihan : mungkin karena kurang memperhatikan dan kurang berhati-hati dalam mengolah cokelat, maka kelompok ini tidak bisa menampilkan hasil yang maksimal. Cokelat yang diolah tercampur dengan air sehingga tampilannya tidak seperti yang diharapkan.
Berdasarkan hasil lembar evaluasi performa kelompok demonstrasi yang diberikan kepada peserta pada akhir performansi, maka hasilnya adalah sebagai berikut:
Kegiatan:
1.      Persiapan demonstrator
a.       Materi dan perlengkapan yang terorganisir dengan baik                   : Bagus
b.      Ruang dan penerangan yang memuaskan                                         : Sedang
c.       Tahapan demonstrasi yang terencana dengan baik                            : Sedang
d.      Subjek yang dipahami dengan baik                                                  : Bagus
e.       Pekerjaan spesifik dari peserta                                                        : Bagus

2.      Persiapan pengamatan
a.       Penumbuhan rasa membutuhkan                                                     : Sedang
b.      Penumbuhan minat                                                                          : Sedang
c.       Pengembangan pemahaman prinsip yang terkandung                       : Sedang
d.      Bantuan yang diberikan pengamat dalam perencanaan                     : Bagus

3.      Pelaksanaan demonstrasi
a.       Setiap tahap yang didemonstrasikan dengan cermat                         : Bagus
b.      Penjelasan yang tepat waktu dan efektif                                           : Kurang
c.       Penggunaan pertanyaan pancingan                                                   : Kurang
d.      Peran serta pengamat dalam demonstrasi                                         : Bagus
e.       Penggunaan alat dalam visualisasi secara efektif                               : Bagus
f.       Diskusi yang dianjurkan                                                                   : Kurang
g.      Minat pengamat yang dipertahankan                                                : Bagus
h.      Hal-hal yang ditekankan                                                                  : Bagus

4.      Analisis hasil
a.       Ringkasan yang dipersiapkan dengan cermat                                  : Sedang
b.      Pengamat yang diberi kesempatan mengerjakan tugas tertentu         : Sedang
c.       Bimbingan individual yang diberikan                                                : Bagus
d.      Pertanyaan pengamat yang terjawab                                               : Bagus
e.       Pengamat yang membantu dalam mengerjakan pelaksanaan            : Sedang
kegiatan untuk memenuhi kebutuhan             

Hana Zafirah Ardani         09-009
Qisty Anindiati Sitepu      09-019
Farah Oktamurdiantri        09-085


Modul Metode Pembelajran Demonstrasi Keterampilan Membuat Coklat Isi Stroberi

Materi:
(1) Pendahuluan
(2) Metode Pembelajaran Demonstrasi
(3) Keterampilan
(4) Keterampilan Mengolah Stroberi
(5) Proses Pembuatan
(6) Perencanaan Biaya
Referensi


I. PENDAHULUAN
Modul ini menjelaskan bagaimana melakukan suatu keterampilan dengan menggunakan bahan makanan. Tujuan dari modul ini agar peserta dapat memanfaatkan bahan makanan yang sederhana dan mudah didapat. Para pesertanya adalah mahasiswa/i yang mengambil mata kuliah andragogi serta dosen pengampunya. Tempat pelaksanaan demonstrasi ini dilaksanakan di Kebun Stroberi – Berastagi. Proses pengerjaan dari awal hingga akhir akan memakan waktu sekitar 90 menit.
Dalam proses pembuatannya peserta akan berada dalam satu kelompok dan telah mendapatkan bahan dan alat yang akan digunakan. Hal ini bertujuan agar peserta dapat terlibat langsung dalam proses pembuatan.
Ada dua manfaat dari modul ini, yang pertama bagi fasilitator/demonstrator yaitu sebagai acuan dalam proses pembelajaran demonstrasi sehingga langkah-langkahnya dapat tersampaikan sesuai dengan tujuannya. Manfaat kedua bagi peserta yaitu dengan adanya modul ini dapat menambah pengetahuan peserta tentang keterampilan dalam mengolah stroberi.

II. METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
Demonstrasi adalah salah satu metode dalam pendidikan orang dewasa yang sangat sering digunakan dalam bidang pertanian maupun industri. Demonstrasi dapat berhasil jika digunakan pada pengajaran manipulative dan keterampilan, pengembangan pengertian, untuk menunjukkan bagaimana melakukan praktik-praktik baru, untuk memperkuat penerimaan terhadap sesuatu yang baru dan memperbaiki cara melakukan sesuatu. Biasanya setelah dijelaskan cara-cara demonstrasi akan dilanjutkan dengan praktik yang dilakukan oleh peserta. Namun, pada demonstrasi ini peserta akan melakukannnya bersama demonstrator.
Secara umum ada dua macam demonstrasi, yaitu demonstrasi cara dan demonstrasi hasil. Modul ini akan membahas tentang demonstrasi cara, yang di dalamnya akan dijelaskan tentang cara-cara bagaimana mengolah stroberi.

III. KETERAMPILAN
Keterampilan adalah usaha memperoleh kompetensi cekat, cepat dan tepat dalam menghadapi permasalahan yang ada. Dalam hal ini keterampilan dimaksudkan untuk menjadikan prilaku seseorang menjadi cekat, cepat dan tepat melaui belajar kerajinan dan teknologi rekayasa dan teknologi pengolahan. Keterampilan ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia di masyarakat.
Dalam hal ini keterampilan dibagi atas dua substansi yaitu keterampilan kerajinan dan keterampilan teknologi. Dimana keterampilan kerajinan berisi kerajinan tangan membuat (creation with innovation) benda pakai dan atau fungsional. Sedangkan keterampilan teknologi terdiri dari teknologi rekayasa (menguraikan dan menyusuri kembali hasil teknologi seperti ortomotif atau elektronika ) dan teknologi pengolahan (keterampilan mengubah fungsi, bentuk, sifat, kualitas ).

IV. KETERAMPILAN MENGOLAH STROBERI
Salah satu dari keterampilan itu adalah mengolah stroberi. Dimana stroberi merupakan salah satu sumber makanan ( buah ) yang dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan yang bisa dinikmati semua orang. Stoberi banyak disukai orang karena rasanya yang manis dan bisa disajikan dalam bentuk aneka ragam makanan. Bisa dinikmati langsung ataupun diolah terlebih dahulu menjadi selai, sirup, kue, dan lain sebagainya.
Keterampilan mengolah stroberi ini dapat diolah dengan mengunakan keterampilan teknologi, yang mana kita membutuhkan alat elektronik untuk mengolahnya. Dan sebagai mahasiswi yang kreatif kita pastinya harus terampil mengolah stroberi agar menarik dan bisa dinikmati semua orang. Mengolah stroberi menjadi cokelat merupakan salah satu model olahan yang mudah untuk dilakukan.

V. PROSES PEMBUATAN
V.1 Alat dan Bahan
V.1.1 Alat
• Cetakan cokelat/es/agar-agar
• Mangkuk kaca besar
• Mangkuk kaca kecil
• Sendok
• Pisau
• Talenan
• Kompor
• Panci

V.1.2 Bahan untuk coklat isi stoberi
• Cokelat 125 gr
• Stroberi 3 buah

V.1.3 Bahan untuk hiasan
• Meses 50 gr
• Selai coklat ½ bungkus

V.2 Cara Membuat
1. Siapkan bahan-bahan.
2. Potong stroberi menjadi empat bagian.
3. Potong coklat menjadi potongan-potongan kecil, letakkan ke dalam mangkuk kecil.
4. Panaskan air. Tuang ke dalam mangkuk besar.
5. Lumerkan coklat dengan cara di-steam. Pastikan tidak ada air/uap air yang tercampur.
6. Tuang cokelat yang telah dicairkan ke dalam cetakan sampai setengah bagian cetakan terisi.
7. Taruh potongan stroberi pada cetakan yang telah berisi cokelat cair, lalu tuangkan lagi cokelat cair sampai  memenuhi cetakan.
8. Tunggu hingga coklat mengeras.
9. Setelah mengeras, olesi coklat dengan selai coklat, lalu taburi dengan meses.
10. Siap dihidangkan

Porsi untuk 6 orang.

VI. PERENCANAAN BIAYA
• Stroberi 100 gr         = Rp 8.000,-
• Cokelat                    = Rp 6.500,-
• Selai coklat              = Rp 5.000,-
• Meses 1 bungkus     = Rp 6.000,- +
                                        Rp 25.500,-

Referensi
 Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa : Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta : PT Bumi Aksara
 http://aksay.multiply.com/jurnal/item/20

Farah Oktamurdiantri             09-085


Modul Metode Pembelajran Demonstrasi Keterampilan Mengolah Stroberi

Materi:
(1) Pendahuluan
(2) Metode Pembelajaran Demonstrasi
(3) Keterampilan
(4) Keterampilan Mengolah Stroberi
(5) Proses Pembuatan
(6) Perencanaan Biaya
Referensi


I.        PENDAHULUAN
Modul ini menjelaskan bagaimana melakukan suatu keterampilan dengan menggunakan bahan makanan. Tujuan dari modul ini agar peserta dapat memanfaatkan bahan makanan yang sederhana dan mudah didapat. Para pesertanya adalah mahasiswa/i yang mengambil mata kuliah andragogi serta dosen pengampunya. Tempat pelaksanaan demonstrasi ini dilaksanakan di Kebun Stroberi – Berastagi. Proses pengerjaan dari awal hingga akhir akan memakan waktu sekitar 90 menit.
Dalam proses pembuatannya peserta akan berada dalam satu kelompok dan telah mendapatkan bahan dan alat yang akan digunakan. Hal ini bertujuan agar peserta dapat terlibat langsung dalam proses pembuatan.
Ada dua manfaat dari modul ini, yang pertama bagi fasilitator/demonstrator yaitu sebagai acuan dalam proses pembelajaran demonstrasi sehingga langkah-langkahnya dapat tersampaikan sesuai dengan tujuannya. Manfaat kedua bagi peserta yaitu dengan adanya modul ini dapat menambah pengetahuan peserta tentang keterampilan dalam mengolah stroberi.
II.     METODE PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
Demonstrasi adalah salah satu metode dalam pendidikan orang dewasa yang sangat sering digunakan dalam bidang pertanian maupun industri. Demonstrasi dapat berhasil jika digunakan pada pengajaran manipulative dan keterampilan, pengembangan pengertian, untuk menunjukkan bagaimana melakukan praktik-praktik baru, untuk memperkuat penerimaan terhadap sesuatu yang baru dan memperbaiki cara melakukan sesuatu. Biasanya setelah dijelaskan cara-cara demonstrasi akan dilanjutkan dengan praktik yang dilakukan oleh peserta. Namun, pada demonstrasi ini peserta akan melakukannnya bersama demonstrator.
Secara umum ada dua macam demonstrasi, yaitu demonstrasi cara dan demonstrasi hasil. Modul ini akan membahas tentang demonstrasi cara, yang di dalamnya akan dijelaskan tentang cara-cara bagaimana mengolah stroberi.

III.      KETERAMPILAN
Keterampilan adalah usaha memperoleh kompetensi cekat, cepat dan tepat dalam menghadapi permasalahan yang ada. Dalam hal ini keterampilan dimaksudkan untuk menjadikan prilaku seseorang menjadi cekat, cepat dan tepat melaui belajar kerajinan dan teknologi rekayasa dan teknologi pengolahan.  Keterampilan ini dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan manusia di masyarakat.
 Dalam hal ini keterampilan dibagi atas  dua substansi yaitu keterampilan kerajinan dan keterampilan teknologi. Dimana keterampilan kerajinan berisi kerajinan tangan membuat (creation with innovation) benda pakai dan atau fungsional. Sedangkan keterampilan teknologi terdiri dari teknologi rekayasa (menguraikan dan menyusuri kembali hasil teknologi seperti ortomotif atau elektronika ) dan teknologi pengolahan (keterampilan mengubah fungsi, bentuk, sifat, kualitas ).

IV. KETERAMPILAN MENGOLAH STROBERI
Salah satu dari keterampilan itu adalah mengolah stroberi. Dimana stroberi merupakan salah satu sumber makanan ( buah ) yang dapat diolah menjadi beberapa jenis makanan yang bisa dinikmati semua orang. Stoberi banyak disukai orang karena rasanya yang manis dan bisa disajikan dalam bentuk aneka ragam makanan. Bisa dinikmati langsung ataupun diolah terlebih dahulu menjadi selai, sirup, kue, dan lain sebagainya.
 Keterampilan mengolah stroberi ini dapat diolah dengan mengunakan keterampilan teknologi, yang mana kita membutuhkan alat elektronik untuk mengolahnya.  Dan sebagai mahasiswi yang kreatif kita pastinya harus terampil mengolah stroberi  agar menarik dan bisa dinikmati semua orang. Mengolah stroberi menjadi cokelat merupakan salah satu model olahan yang mudah untuk dilakukan. 

V.    PROSES PEMBUATAN
V.1  Alat dan Bahan
V.1.1  Alat
·      Cetakan cokelat/es/agar-agar
·      Mangkuk kaca
·      Sendok
·      Pisau
·      Talenan

V.1.2  Bahan
·      Gula pasir 1 kg
·      Cokelat 3 batang
·      Mentega putih 500 gr
·      Stroberi 500 gr
·      Meses 1 bungkus
V.2  Cara Membuat
1.    Siapkan bahan-bahan.
2.    Potong stroberi menjadi empat bagian.
3.    Cairkan cokelat menggunakan air panas.
4.    Tuang cokelat yang telah dicairkan ke dalam cetakan sampai setengah bagian cetakan terisi.
5.    Taruh potongan stroberi pada cetakan yang telah berisi cokelat cair, lalu tuangkan lagi cokelat cair sampai memenuhi cetakan.
6.    Tunggu hingga dingin.

·      Cara Membuat Hiasan
1.    Campurkan gula pasir dengan mentega putih, aduk hingga halus.
2.    Oleskan di atas cokelat yang sudah mengeras, lalu taburi dengan meses.
3.    Siap dihidangkan.

VI.      PERENCANAAN BIAYA
·               Stroberi 500 gr  =          Rp    40.000,-
·              Gula pasir 1 kg   =         Rp    12.000,-
·               Cokelat             =         Rp 15.000,- x 3                  =        Rp   45.000,-
·               Mentega putih                                                          =       Rp    15.000,-
·              Meses 1 bungkus                                                     =        Rp    10.000,-     +
                                                                                                  total :  Rp  122.000,-

Referensi
§      Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa : Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta : PT Bumi Aksara
§      http://aksay.multiply.com/jurnal/item/20

Dalam merencanakan pendidikan bagi orang dewasa, ada komponen-komponen yang membentuknya. Ada 8 komponen yang menyusunnya menurut Rahman (dalam Suprijanto, 1989). Bagaimana jika salah satu dari komponen itu tidak terpenuhi? Apakah akan terjadi ketimpangan dalam perencanaan pendidikan orang dewasa?


Komponen perencanaan pendidikan bagi orang dewasa menurut Rahman (dalam Suprijanto, 1989) ada 8, yaitu :
1. Peserta didik. Peserta didik dalam pendidikan orang dewasa sangat beragam, baik dari segi umur, jenis kelamin, latar belakang pendidikan maupun pengalaman hidup. Hal ini adalah suatu hal yang harus diperhatikan bagi para fasilitator.

2. Tujuan belajar. Tujuan belajar ini lebih dititikberatkan pada peningkatan keterampilan peserta didik. Keterampilan yang diajarkan adalah keterampilan praktis yang cukup untuk memenuhi kehidupannya.

3. Sumber belajar (pembimbing). Pembimbing atau fasilitator hendaknya orang yang berasal dari kalangan masyarakat itu sendiri. Biasanya jika fasilitator dari masyarakat itu diharapkan lebih mengenal masyarakat itu sendiri.

4. Kurikulum. Kurikulum untuk pendidikan orang dewasa ini sangat sederhana dan disesuaikan dengan kebijakan pemerintah setempat. Kemudian hal yang diajarkan mengandung pengetahuan dasar dan praktis.

5. Organisasi pelaksana. Dalam membuat organisasi pelaksana, hal-hal yang harus dipikirkan adalah siapa pelaksananya, kegiatan apa yang akan dilakukan, susunan personalia organisasi itu, perlengkapan, sumber dana serta penanggungjawabnya.

6. Kondisi masyarakat setempat. Saat menyusun perencanaan, kondisi masyarakat hendaknya diperhatikan, karena jika tidak maka dikhawatirkan akan terjadi ketidaksesuaian.

7. Kemanfaatan langsung. Program pelaksanaan hendaknya berhubungan dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

8. Struktur organisasi. Perlu dihindari struktur organisasi yang rumit agar lebih mudah dalam mengelolanya.

Jika salah satu komponen diatas tidak terpenuhi, maka dikhawatirkan terjadi ketimpangan dalam merencanakan pendidikan bagi orang dewasa, walaupun tidak berarti bahwa pendidikan orang dewasa itu gagal dilakukan. Komponen diatas telah dibuat agar pendidikan orang dewasa dapat terlaksana dengan baik dan memenuhi kebutuhan para peserta didik.

Sebagai contoh, jika seandainya tidak ada organisasi pelaksana yang mengatur seluruh rancangan pendidikan orang dewasa itu. Walaupun masih bisa terlaksana, akan sangat sulit dilakukan saat terjadi masalah, misalnya masalah dalam perlengkapan. Saat tidak ada yang bertanggung jawab pada perlengkapan pengajaran, maka kecil kemungkinan pendidikan orang dewasa itu dapat berjalan sesuai apa yang diinginkan.

Memang sebaiknya komponen yang menyusun dalam perencanaan pendidikan orang dewasa ini terpenuhi seluruhnya agar tidak terjadi ketimpangan atau masalah yang dapat mengganggu pelaksanaan pendidikan orang dewasa ini.


Daftar Pustaka
Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara


Kelompok 3 :
Farah Oktamurdiantri             09-085

Ilutrasi :
“Dua orang mahasiswa memutuskan untuk tidak mengikuti perkuliahan karena alasan yang tidak jeals. Namun, yang menjadi permasalahannya adalah begitu mudahnya seorang mahasiswa untuk tidak mnegikuti suatu perkuliahan.”

Hal ini merupakan hal yang umum terjadi pada kehidupan pendidikan orang dewasa sekarang. Untuk mengetahui penyebab dari kasus seperti ilustrasi di atas, maka kami akan membahas dengan menggunakan beberapa prinsip pendidiikan orang dewasa dan pendekatannya.

Prinsip dalam pendidikan orang dewasa
Salah satu prinsip yang akan dibahas disini adalah keinginan belajar dan minat yang ada pada diri seorang peserta didik. Sekarang ini, rasa ingin belajar merupakan suatu hal yang perlu ditanamkan pada setiap orang. Keinginan belajar  merupakan hal yang sangat penting yang dapat meningkatkan efektivitas belajar (Suprijanto, 2007). Keinginan belajar juga dapat mempengaruhi minat untuk mau mengikuti program pembelajaran. Jika kedua hal ini kurang pada diri seorang peserta didik, maka hal yang ada pada ilustrasi diatas dapat terjadi.

Pendekatan dalam pendidikan orang dewasa
Ada banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam pendidikan orang dewasa. Pendekatan ini dibuat berdasarkan teori-teori pendidikan dan dapaat diaplikasikan untuk kasus-kasus tertentu. Pendekatan yang kami gunakan adalah pendekatan perwujudan diri sendiri (self-actualization approach) yang mana salah satu pendekatannya adalah membantu timbulnya konsep diri yang positif.
Dalam pendekatan ini, diharapkan bahwa pebelajar dapat mengetahui bagaimana dirinya sendiri dan seberapa jauh ia memamndang bahwa dirinya mampu membuat perubahan.  Pada pendekatan ini juga fasilitator harus mengetahui apa masalah dalam diri pebelajar itu.

Hubungan antara prinsip dengan pendekatan pada pendidikan orang dewasa dengan ilustrasi kasus
Kami berpendapat bahwa  keinginan belajar dan minat pada kedua mahasiswa diatas rendah, maka mereka memutuskan untuk tidak menghadiri perkuliahan tanpa alasan yang jelas. Berdasarkan pendekatan yang kami ambil fasilitator harus menimbulkan usaha dari kedua mahasiswa itu untuk memenmukan konsep diri mereka yang postif karena apabila mereka sudah memutuskan untuk mengambil sebuah mata kuliah, maka sebagai orang dewasa mereka harus bertanggung jawab untuk menghadiri mata kuliah itu. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan keinginan dan minat belajar kedua mahasiswa itu agar kedepannya mereka mau menghadiri mata kuliah yang telah dipilih mereka.

Daftar Pustaka

Daftar pustaka 
Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara.
M.S, Yusnadi. 200-. Pendidikan Orang Dewasa (Andragogi). Medan: PPS UNIMED

Minat merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran bagi orang dewasa. Cara seperti apa yang dapat dilakukan dalam mengembangkan minat belajar pada peserta didik?

Minat memang seharusnya ditumbuhkan pada diri peserta didik masing-masing. Dikatakan bahwa semakin besar minatnya, semakin semangat dan semakin baik hasilnya. Minat berasal dari hati nurani untuk ikut serta dalam kegiatan belajar. Inilah mengapa minat sangat diperlukan.
Minat ini sendiri ada yang merupakan minat permanen dan minat sementara. Perlu untuk mengembangkan minat permanen agar nilai-nilai dan pelajaran yang diberikan dapat bermanfaat bagi seluruh peserta didik.
Cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan minat ada bermacam-macam. Yang pertama pendidik atau fasilitator harus menunjukkan antusias agar kegiatan dapat terlaksana. Hal ini dapat membuat peserta merasa dihargai dan dapat menumbuhkan minat belajar.
Yang kedua adalah peserta didik harus diberi kesempatan untuk mengetahui dengan pikirannya sendiri tujuan dari pembelajaran agar nantinya dapat membantu dalam kehidupan sehari-hari dan membantu masyarakat secara keseluruhan. Sementara yang ketiga yaitu peserta didik haruslah memiliki pengetahuan pokok dan dapat menghubungkan pengetahuan itu denga topik yang akan diberikan. Dengan adanya pengetahuan awal, peserta didik akan lebih tertarik dan minat yang ada akan lebih besar.
Yang keempat jika rasa tertarik itu sudah ada, harus terus dipertahankan dalam setiap pertemuan. Kita juga harus melihat apakah mereka sudah mendapatkan pengetahuan yang mereka butuhkan. Selain itu, kita juga dapat menghubungkan materi dengan hal-hal menarik diluar kursus. Kemudian ditambah dengan pemberian audiovisual yang sesuai, kita dapat membuat peserta didik tetap berpikir sehingga minat itu tidak hilang.
Cara yang kelima adalah fasilitator dapat membantu peserta untuk mengukur kemampuannya sendiri. Hal ini ditujukan agar peserta dapat menggali nilai-nilai yang ada pada dirinya. Peserta didik juga bisa diarahkan untuk bisa lebih terlibat dalam kelompok daripada dirinya sendiri. Selanjutnya suasana dalam pengajaran haruslah suasana yang akrab, senang, sopan, dan demokratis sehingga peserta akan merasa nyaman dan minat akan semakin besar.        Daftar Pustaka     Suprijanto. 2005. Pendidikan Orang Dewasa: Dari Teori Hingga Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara