twitter
rss


Hai ! Welcome back guys. Kali ini bukan cerita tentang aku. Kali ini kita akan bercerita tentang adikku, Mae. Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri (lagi). Nama saya Kai, dan ya, namaku hanya tiga huruf itu. Cukup tentang aku. Kalau diteruskan mungkin Mae akan marah karena aku udah janji cerita kali ini tentang dirinya. Fine, I get Mae. Ini juga udah mau dimulai ceritanya.
Dari mana sebaiknya kita mulai? Ooh.. Baiklah. Sesuai kesepakatan bersama, kita mulai dari namanya. Sebelumnya, saya sudah membuat kesepakatan dengan Mae kalau dia tak boleh protes selama proses cerita berlangsung. Karena bagaimanapun ini cerita saya walaupun bukan tentang saya.
Langsung saja. Namanya Siti Maemunah. Lahir di Tokyo, besar di Tokyo, tapi harus terdampar di Indonesia saat usianya 13 tahun. Hei, aku tahu apa yang ada dipikiran kalian semua. Pasti bingung kenapa namanya bisa nyasar jadi Siti Maemunah. Begini ceritanya.
Saat Mae lahir, Ayah sedang bertugas di Indonesia. Melalui telepon jarak jauh, Ibu menanyakan siapa nama untuk anak perempuannya. Entah terpeleset atau kaget, Ayah tiba-tiba berteriak “SITI MAEMUNAH!”. Ibu yang merupakan orang Jepang berpikir kalau itu nama yang cukup unik dan memutuskan untuk menamai adikku Siti Maemunah. Kalau saja saat itu aku mengerti permasalahannya, mungkin ini yang akan aku katakan pada Ibu : Hellow Ibu…  Nama Siti Maemunah itu kan kampungan bangeeet…!!!. (Akan lebih terasa jika kalian membacanya penuh dengan eskpresi yang lebay).
Mae kurang beruntung. Sebelum Ayah datang untuk merevisi namanya, Mae sudah terdaftar di asuransi jiwa, asuransi pendidikan dan akte kelahiran. Jadilah namanya Siti Maemunah, dengan nama gaul Mae.
Di Jepang, nama Mae menjadi beken karena mirip-mirip dengan nama orang sana. Ditambah lagi perpaduan dengan darah Indonesia membuat  Mae sedikit unik. Kulit putih, badan agak berisi, mata yang bundar seperti kacang almond, rambut hitam lurus, hidung mungil khas orang Jepang. Hanya saja, kepopulerannya tidak bertahan lama karena kami harus pindah ke Indonesia.
Disinilah malapetaka itu dimulai. Kalau aku dirasa lebih beruntung di Indonesia karena aku tidak bisa berbahasa Jepang, maka Mae adalah kebalikan nasibku. Wajah dan logat serta bahasa Jepang yang digunakannya tidak matching dengan nama yang disandangnya, Siti Maemunah. Aku pernah mendengar salah seorang teman Mae berkata, “Kasian ya si Mae. Muka cantik, turunan Jepang, tapi namanya kampungan.” Yup teman-teman. Itulah yang aku maksudkan sedari tadi. Nama itu kampungan. Ditambah lagi karena penampilannya bak orang asing yang datang berkunjung ke Indonesia.
Tidak sampai disitu, karena susah berbahasa Indonesia, Mae menjadi pendiam. Padahal sebelumnya Mae sangat cerewet. Ini juga dijadikan sasaran ejekan teman-teman Mae. Sudah kubilang, nasib kami tertukar.  Aku yang namanya seperti orang Jepang malah tak bisa bahasa Jepang. Dunia kadang memang tak adil.
Apa tadi? Cara kami berkomunikasi? Hm.. sebenarnya ini rahasia keluarga, tapi kali ini aku berbaik hati untuk menceritakannya kepada kalian. Kami bertelepati. Sulit untuk dipercaya, tapi memang begitulah adanya. Kalau aku ingin bicara padanya, aku akan bicara dalam bahasa Indonesia. Kemudian dia akan meresponnya dalam bahasa Jepang. Herannya, kami saling mengerti apa yang kami bicarakan. Bukankah itu telepati?
Baiklah. Aku sudah menepati janjiku untuk bercerita tentang Mae. Dan Mae juga menepati janjinya dengan diam saja saat kuceritakan tentang dirinya pada kalian. Kisah selanjutnya mau tentang apa? Apa tentang orangtuaku? Atau mungkin tentang teman-temanku? Kalian pikirkan dulu sementara waktu ini. Setelah dapat keputusannya, beri tahu aku segera.
See you in the next story…

         Hai, namaku Kai. Yup, hanya tiga huruf itu. K-A-I. Memiliki nama yang sangat pendek seperti ini membawa untung. Saat UN, mudah bagiku untuk menulis nama dan membulatkannya, memberiku lebih banyak waktu untuk mengerjakan soal. Tapi tidak Cuma untung. Nama ini juga membawa petaka. Karena hanya terdiri dari tiga huruf, mudah bagi guru-guru untuk mengingatku, yang artinya lebih banyak bencana yang datang. Cukup tentang nama. Sekarang saya akan bercerita tentang kehidupanku yang nasibnya tak jauh beda dengan namaku.

            Lahir ditengah keluarga yang bernuansa Jepang (seperti namaku) bukanlah hal yang membanggakan. Kulitku terlalu putih dan mulus untuk ukuran cowok Indonesia, badanku tinggi kurus, rambut lurus, mata yang agak sipit. Untunglah hidungku masih mau mengikuti Ayah yang orang Padang, mancung dan agak bangir. Tapi yang amat sangat disayangkan, aku tak menguasai bahasa ibuku.  Aku sama sekali tak bisa berbahasa Jepang. Memang sih aku besar di Indonesia, tapi paling tidak aku seharusnya bisa mengerti bahasa Jepang. Tapi kenyataannya aku tak bisa. Cukup memalukan menurutku.

            Selanjutnya kehidupan sosialku. Untuk hal ini aku cukup beruntung karena mereka mengira aku keren. Terlahir dikeluarga yang cukup berada, memiliki ibu orang asing, wajah yang oriental, otak yang cukup encer adalah hal-hal yang dianggap keren disini. Tapi itu hanya berlaku untuk teman-teman yang berjenis kelamin laki-laki dan para guru, tidak berlaku untu para cewek-cewek. Entah mengapa, tak ada yang menganggapku keren. Terkadang aku cukup heran dengan hal itu. Bukannya aku kepedean, tapi kalau cowok menganggap aku ini keren (ceileh!), seharusnya begitu juga dengan cewek dan aku punya pengalaman tentang hal ini.
           
            “Kau dikutuk Kai,” itu pendapat adikku, Siti Maemunah. Sebenarnya aku ingin cerita mengapa namanya bisa seperti itu. Tapi, kali ini ceritanya tentang aku. Jadi maaf saja Mae, you’re out of the story this time. Kembali ke pendapatnya tadi. Apa benar aku dikutuk? Hem.. sepertinya kita mau tak mau harus melibatkan Mae dalam cerita ini.
            “Ya, dikutuk. Kau dikutuk supaya terlihat jelek dimata para cewek.” Kalian tahu, aku sedikit menyesal melibatkan pendapat Mae yang (sangat) tidak penting ini. Mana mungkin aku dikutuk seperti itu. Lagipula, apa salahku? Aku rajin shalat (beneran!), rajin menabung, tidak sombong, patuh pada orangtua. Apalagi yang kurang?

            “Mungkin saja karena perbuatanmu yang tak kau sadari,”. Mae, get out of my story!! Tapi tak urung pendapatnya ini cukup mengusikku. Apa iya aku ini dikutuk??

            Dikarenakan rasa penasaran yang bikin aku gatal-gatal, aku melakukan survey kecil-kecilan.

            Pertanyaannya   : Apakah saya cukup keren dimata kalian?
            Sasaran            : Cewek-cewek dikampus, di-facebook, di- twitter, lingkungan rumah, teman-teman                                        sekolah Mae.
            Hasil                 : GOD!!! Mae was right! I am cursed!!

            Aku menyesal melakukan survey itu. Selama ini aku percaya bahwa itu hanyalah kebohongan Mae belaka. Tapi kali ini aku tak bisa memungkirinya lagi. Harga diriku hancur berkeping-keping. Why God, why????
            Apa? Kalian ingin tahu detail survey itu? Huft.. Baiklah. Mungkin dengan berbagi bisa sedikit mengobati harga diriku.

            Jadi, sekitar sebulan yang lalu, aku melakukan riset itu. Mulai dari mengirimkan mata-mata dan agen untuk mengetahui hal itu.

            A 1 : Eh eh, katanya Kai udah punya pacar yah?
            S 1 : Hah? Masa sih? Ngga tahu juga yah.
            S 2 : Lagian mana mungkin. Secara Kai gitu loh..
            A 1 : Memangnya kenapa kalau Kai?
            S 1 : Yah, tau sendiri kan Kai itu gimana.

            See? Bagaimana aku tidak syok saat agen 1 melaporkan hasilnya padaku. Aku tak ingin menceritakannya lebih jauh. Rasanya malah lebih buruk. Setelah melakukan riset ini, aku jadi uring-uringan sendiri. Tak mau makan, tak mau keluar kamar. Ayah, Ibu dan Mae sudah bosan memaksaku makan. Tapi aku tak bergeming. Sampai suatu hari ada e-mail yang masuk, email yang mengubahku dan membuatku kembali ceria (hahaha! Lebay!)

            Begini isi emailnya kira-kira.
            Hai Kai. Hehe.. Nama kamu lucu yah. Kayak orang Jepang.
            Mungkin kamu ngga kenal ama aku.  Aku juga kok. Aku tau kamu dari temenku yang nanyain pendapat aku tentang kamu. Abis itu aku buka account kamu. Menurut aku kamu tuh lucu. Putih kayak orang Jepang. Atau jangan-jangan kamu memang orang Jepang?
            Well, overall aku lihat kamu lumayan kok. Kalau menurutmu kamu dikutuk (kayak statusmu), itu ngga bener. Malahan sepertinya kamu masih menjomblo itu karena tak ada cewek yang berani mendekati kamu dan nunjukin kalau mereka suka. You’re not a loser, Kai, but those girls are.
            Tetap semangat ya Kai...
           
            Regards, L.O.V.E

            Hanya email pendek, tapi bisa mengembalikan semangatku lagi. Dan yang paling menyenangkan, aku ngga dikutuk. Paling tidak, untuk sekarang ini aku yakin aku ngga dikituk. Buktinya ada cewek yang bilang aku lucu. Darimana aku tahu? Tentu saja dari email itu. L.O.V.E, Leona Ovie Vannisa Edrian. Itu nama cewek kan?
           

Makasih buat seluruh teman-teman yang sudah comment di blog saya ini. Hanya saja saya mau mengklarifikasi sesuatu.

ugas individu yang seharusnya di-comment oleh teman-teman itu adalah posting yang berjudul "J for Jake".
Mungkin ada beberapa yang malah comment pada posting-an saya yang berjudul "Puss Baby, the "Siluman" Cat".

Jadi, kalau boleh saya merepotkan teman-teman semua untuk memberi komentar pada posting-an saya yang menjadi tugas individu 3.
Still waiting for your comment, guys..

Sebelumnya saya minta maaf dan minta izin kepada Aisyah Hudaya karena saya terinspirasi dan meminjam idenya.
Ini bukan bagian dari tugas saya. Ini hanyalah "curhatan" serta pengalaman saya berhadapan dengan binatang ajaib.
Kali ini tokoh utama kita adalah seekor kucing yang setelah melewati proses yang cukup panjang (ceileh!), akhirnya kami, saya dan kakak-kakak saya, memberinya nama Puss Baby, nama yang sangat tidak lazim.

Semuanya berawal pada suatu subuh di akhir bukan Januari 2010. Pada waktu itu, rumah dalam keadaan mati lampu. Papa saya, yang kebetulan sedang berada di Medan, membuka pintu rumah karena kepanasan. Saya pun terbangun karena suasana yang gelap itu.

Tiba-tiba saja, kucing betina itu muncul. Berdiri didepan pintu memandang kearah Papa. Papa langsung saja menyuruh saya untuk mengusir kucing itu. Disinilah saya menyadari sesuatu. Kucing itu bukan kucing biasa. (Kayak judul lagu deh).

Sejak saat itu, entah siapa yang memulai, kucing itu menjadi bagian dari kami. Hanya saja, prilaku kucing ini sangat aneh. Perhatikan foto berikut.


Jika dilihat dari posisi tidurnya saja, kita bisa menyimpulkan bahwa kucing ini aneh. Emangnya ada kucing tidur terlentang begini? Apalagi kucing ini hanya mau tidur ditempat-tempat yang empuk. Berkali-kali Puss Baby kedapatan sedang asyik tidur ditempat tidur saya. Sayang, saya tidak sempat mendokumentasikannya.
Saya hanya sempat mendokumentasikan Puss Baby tidur diatas kasur yang tidak terpakai dirumah.



Tidak hanya itu. Puss Baby juga punya kebiasaan aneh. Setiap kali dia akan dibawa keluar, dia otomatis menjatuhkan tubuhnya dan memasang tampang memelas sehingga kita menjadi tidak tega. Anda tidak percaya? Silahkan tanya beberapa saksi hidup yang sudah menyaksikan kejadian itu.

Masih belum percaya kalau Puss Baby itu bukan kucing biasa? Check these out, guys!

Cuma mau minum susu merk-nya Indomilk..


Minumnya dari gelas, trus diatas meja lagi. Serasa yang punya rumah..

Yang lebih mantap lagi, makannya sayur..
Baru kali ni lihat kucing doyan ama sayuran..
Aku aja ogah...

Bagaimana saudara-saudara sekalian? Sudahkah kalian percaya bahwa Puss Baby ini mungkin saja adalah kucing siluman? Ini hanya sebagian kecil dari keanehan Puss Baby. Kalau saya ceritakan semua kasihan Puss Baby, bisa-bisa terbongkar semua aib yang dia miliki.


Sarajevo, 4 May 1857
Jake tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Telinganya berdenging. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksanya sekarang perlahan mulai hilang. Matanya terpejam. Sekilas tampak bayangan kejadian yang terjadi begitu cepat. Jake mulai terengah. “Mungkin ini rasanya mati. Tidak buruk juga,” Jake berkata pada dirinya sendiri. Dia mulai menikmati setiap detik yang tersisa. Saat kesadarannya mulai hilang, Jake mendengar suara terakhir memanggil namanya.
London, 25 Maret 1857
“Jake, apa kau benar-benar harus pergi?” Jane mulai terisak pelan. Jake memandang gadis itu sedih. Seandainya ia bisa memilih, dia takkan meninggalkan Jane sendirian, terutama dalam situasi seperti ini.
“Ayolah Jane. Kita sudah membicarakan ini berulang-ulang. Ini bukan kemauanku,” pujuk Jake. Isakan Jane berubah menjadi tangisan. Diusapnya kepala Jane sayang. Sungguh dia tak ingin membuat gadis itu menangis, apalagi disaat dia harus pergi.
“Kau tak harus pergi Jake. Kau bisa bilang pada mereka kau belum berusia 17 tahun,” ujar Jane bersikeras. Matanya yang biru terang tampak basah dengan air mata yang tak juga berhenti. Jake tampak tidak perduli. Ia terus memasukkan barang-barang yang diperlukannya dalam perjalanan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan tiga kali.
 “Itu tanda bagiku. Aku harus berangkat sekarang, Jane,” Jake berusaha tabah. Jane hanya bisa tertunduk sedih. Jelas usahanya menahan Jake disini  sia-sia saja. “Maafkan aku, tapi aku tak punya pilihan,” dipeluknya tubuh kurus Jane. Jane kembali menangis, membasahi baju Jake yang lusuh.
“Kau harus berjanji untuk pulang,” akhirnya Jane mau merelakan kepergian Jake. Jake tersenyum. Diacungkannya jari kelingkingnya kepada Jane.
“Oke, aku janji. Aku akan pulang dan menepati janjiku,” ucap Jake bersungguh-sungguh. Jane menyambut tanda perjanjian itu. Ia berusaha tersenyum, walaupun dalam hati ia merasakan suatu perasaan yang tidak menyenangkan.
Jake pun pergi meninggalkan Jane dan kota mereka. Setelah menutup pintu, hati Jane merasakan kekosongan yang mengerikan. Dia mencoba mengalihkan pikiran itu dan kembali merajut baju hangat untuk Jake nanti. Tetapi entah mengapa Jane merasa bahwa baju itu tak akan pernah dipakai oleh Jake.
Sarajevo, 2 April 1897
Setelah menempuh perjalanan beberapa hari yang rasanya seperti jutaan tahun, akhirnya mereka sampai di barak tentara. Disana tampak orang-orang sibuk membangun tenda-tenda yang akan dijadikan lokasi tidur. Jake dan beberapa pemuda lainnya menurunkan barang-barang mereka dan menaruhnya kedalam salah satu tenda, sebelum mereka berbaris dan mendengarkan pidato singkat dari komandan mereka.
“Selamat datang bagi para tentara-tentara muda yang baru saja tiba. Nama saya adalah Komandan Smith. Disini saya bertugas untuk melatih kalian dalam menghadapi serangan musuh yang bisa terjadi kapan saja. Peraturan disini adalah peraturanku. Jika kalian berniat untuk melanggar peraturan, sebaiknya kalian pikir-pikir kembali,” suara Komandan Smith terdengar lantang. Jake sedikit menciut saat mendengar penjelasan singkat ini.
Akhirnya, Jake dan beberapa orang lainnya diperbolehkan beristirahat. Jake memandang sekelilingnya. Suasana disini begitu asing. Ia sudah mulai rindu kepada Jane. Sedang apa gadis itu sekarang? Apakah keadaan disana aman? Pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan kedalam otak Jake. Segera ditepisnya semua pemikiran itu. Ia harus focus dan serius menjalankan tugas ini kalau ia ingin memenuhi janjinya pada Jane.
Hari-hari di barak dilalui Jake dengan setengah hati. Bagaimanapun ia tak bisa berhenti memikirkan Jane. Hal ini membuat dirinya terkadang bermasalah dengan Komandan Smith.  Kesalahan-kesalahan dalam pelatihan tidak jarang diperbuat Jake.
Hingga pada akhirnya tibalah hari terakhir ia menjalani tugasnya. Tak ada penyerangan, tak ada baku tembak disana. Semua orang bergembira karena bisa bertemu kembali dengan keluarganya. Tapi hal itu tak berlangsung lama. Musuh sudah menunggu untuk momen dimana para prajurit tidak siap dengan serangan mendadak.
Segera saja barak mereka menjadi porak-poranda. Suara tembakan, meriam, dan teriakan membaur menjadi satu. Jumlah mereka tidak seimbang, sehingga kelompok tentara terdesak mundur. Beberapa orang langsung kabur saat terjadi penyerangan, termasuk Jake. Sungguh, pelajaran yang diberikan dalam masa pelatihan sangat berbeda saat menghadapi kejadian yang sebenarnya.
Jake berlari kedalam hutan dengan beberapa pemuda lainnya. Tapi sialnya, satu peluru berhasil bersarang diperut Jake. Awalnya Jake tidak memperdulikan lukanya dan terus berlari masuk kedalam hutan pinus. Ia hanya berbekal senapan. Jake terus berlari tanpa arah. Tapi, ternyata tubuhnya menolak untuk terus berlari. Jake ambruk, senapannya tergeletak tak berdaya disebelahnya.
Jake tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Telinganya berdenging. Rasa sakit yang tadi begitu menyiksanya sekarang perlahan mulai hilang. Matanya terpejam. Sekilas tampak bayangan kejadian yang terjadi begitu cepat. Jake mulai terengah. “Mungkin ini rasanya mati. Tidak buruk juga,” Jake berkata pada dirinya sendiri. Dia mulai menikmati setiap detik yang tersisa. Saat kesadarannya mulai hilang, Jake mendengar suara terakhir memanggil namanya.
*#*#*
“Jake, bangun,”. Samar-samar Jake mendengar suara lembut memanggilnya. Apa aku sudah disurga? Semuanya tampak putih disini, pikir Jake.
“Jake, ayo bangun,”. Suara itu kembali mengusik Jake. Perlahan Jake membuka matanya yang terasa berat. Dilihatnya Jane tersenyum dengan air mata mengalir dipipinya.
“Hai, Jane,”  Jake berkata serak. Senyuman Jane semakin lebar. Tangannya mengusap rambut pirang Jake. Diperhatikannya luka-luka yang ada pada wajah Jake.
“Syukurlah kau masih hidup,” ujar Jane lembut.
“Tentu saja, aku sudah berjanji kepadamu,” Jake terkekeh pelan. Tapi kemudian ia meringis karena sakit diperutnya. Jane tertawa melihat hal itu. “Tapi aku minta maaf Jane,” Jake mendadak serius. Wajah Jane menegang. Ia tidak suka saat Jake menampilkan ekspresi seperti ini. Suasana menjadi hening.
“Aku mengerti. Kau tak usah khawatir. Aku sudah mempersiapkan diri sejak lama,” suara Jane terdengar sangat pelan. Hati Jake sakit melihat ekspresi tabah pada wajah Jane. Tapi kali ini ia tidak bisa menghindar. Rasanya ia ingin marah pada Tuhan yang rasanya tidak adil pada gadis sebaik Jane.
“Jane, aku benar-benar minta maaf. Hanya saja aku disini untuk memenuhi janjiku padamu. Aku tidak berjanji kalau aku akan tinggal,” Jake berusaha membela diri.
“Tak apa Jake. Rasanya melihatmu disini sudah lebih dari cukup. Aku tidak bisa berharap banyak,” nada suara Jane terdengar seperti senang yang dipaksakan. Kemudian Jane bangkit dari kursinya. “Aku membuatkanmu baju hangat. Aku akan pulang untuk mengambilnya,” ujar Jane. Jake tidak berusaha menahan kepergian Jane.
Lalu Jane pergi meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya. Ia tidak buru-buru. Pikirannya melayang pada saat keluarga mereka masih lengkap, sebelum terjadi perang yang telah merenggut orangtuanya. “Tuhan, jika Jake harus pergi, apakah Kau bisa bilang padanya kalau aku sangat menyayanginya? Ia keluarga terkahir yang aku punya,” Jane berkata pada langit yang tampak cerah pada hari itu.
Jane menggenggam baju hangat yang dibuatnya. Diperhatikannya inisial yang ia rajutkan ditengah-tengah baju itu. “J untuk Jake,” ia tersenyum sendiri. Tiba-tiba ada perasaan sakit pada ulu hatinya. Air matanya perlahan turun dan menetes diatas baju tersebut. Kali ini ia yakin, baju itu tak akan pernah dipakai oleh Jake.


 Media Pembelajaran dalam Pendidikan

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Maka, media pembelajaran tidak terlepas dari dunia psikologi pendidikan yamg mempelajari tentang pengajaran dan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.

Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.

Banyak sekali jenis media yang sudah dikenal dan digunakan dalam penyampaian informasi dan pesan – pesan pembelajaran. Setiap jenis atau bagian dapat pula dikelompokkan sesuai dengan karakteristik dan sifat – sifat media tersebut. Sampai saat ini belum ada kesepakatan yang baku dalam mengelompokkan media. Jadi banyak tenaga ahli mengelompokkan atau membuat klasifikasi media akan tergantung dari sudut mana mereka memandang dan menilai media tersebut.

Penggolongan media pembelajaran menurut Gerlach dan Ely yang dikutip oleh Rohani (1997 : 16) yaitu :
1.  Gambar diam, baik dalam bentuk teks, bulletin, papan display, slide, film strip, atau overhead proyektor.
2. Gambar gerak, baik hitam putih, berwarna, baik yang bersuara maupun yang tidak bersuara.
3. Rekaman bersuara baik dalam kaset maupun piringan hitam.
4. Televisi
5. Benda – benda hidup, simulasi maupun model.
6. Instruksional berprograma ataupun CAI (Computer Assisten Instruction).

Penggolongan media yang lain, jika dilihat dari berbagai sudut pandang adalah sebagai berikut :
1. Dilihat dari jenisnya media dapat digolongkan menjadi media Audio, media Visual dan media Audio Visual.
2. Dilihat dari daya liputnya media dapat digolongkan menjadi media dengan daya liput luas dan serentak, media dengan daya liput yang terbatas dengan ruang dan tempat dan media pengajaran individual.
3. Dilihat dari bahan pembuatannya media dapat digolongkan menjadi media sederhana (murah dan mudah memperolehnya) dan media komplek.
4. Dilihat dari bentuknya media dapat digolongkan menjadi media grafis (dua dimensi), media tiga dimensi, dan media elektronik.

Media memiliki beberapa fungsi, diantaranya :
1.    Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki oleh para peserta didik. Pengalaman tiap peserta didik berbeda-beda, tergantung dari faktor-faktor yang menentukan kekayaan pengalaman anak, seperti ketersediaan buku, kesempatan melancong, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat mengatasi perbedaan tersebut. Jika peserta didik tidak mungkin dibawa ke obyek langsung yang dipelajari, maka obyeknyalah yang dibawa ke peserta didik. Obyek dimaksud bisa dalam bentuk nyata, miniatur, model, maupun bentuk gambar – gambar yang dapat disajikan secara audio visual dan audial.
2.    Media pembelajaran dapat melampaui batasan ruang kelas. Banyak hal yang tidak mungkin dialami secara langsung di dalam kelas oleh para peserta didik tentang suatu obyek, yang disebabkan, karena : (a) obyek terlalu besar; (b) obyek terlalu kecil; (c) obyek yang bergerak terlalu lambat; (d) obyek yang bergerak terlalu cepat; (e) obyek yang terlalu kompleks; (f) obyek yang bunyinya terlalu halus; (f) obyek mengandung berbahaya dan resiko tinggi. Melalui penggunaan media yang tepat, maka semua obyek itu dapat disajikan kepada peserta didik.
3.    Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
4.    Media menghasilkan keseragaman pengamatan
5.    Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, konkrit, dan realistis.
6.    Media membangkitkan keinginan dan minat baru.
7.    Media membangkitkan motivasi dan merangsang anak untuk belajar.
8.    Media memberikan pengalaman yang integral/menyeluruh dari yang konkrit sampai dengan abstrak

DAFTAR PUSTAKA:

Psikologi Pendidikan dan Teknologi Pembelajaran
Dasar Pemikiran

Pembangunan di bidang pendidikan diarahkan kepada pengembangan sumberdaya manusia yang bermutu tinggi, guna memenuhi kebutuhan dan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Melalui pendidikan, sumberdaya manusia yang bersifat potensi diaktualisasikan hingga optimal; dan seluruh aspek kepribadian dikembangkan secara terpadu.
Kehadiran teknologi merupakan suatu keniscayaan dalam pendidikan khuusnya dalam pembelajaran dimana sekarang dan masa yang akan datang. Mengintegrasikan teknologi kedalam pembelajaran antara lain untuk meningkatkan kompetensi pengajar dalam mengajar dan meningkatkan mutu belajar peserta didik.
Manfaat teknologi dalam pembelajaran antara lain :
1.      Pengajar dan peserta didik mampu mengakses teknologi
2.      Pengajar memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan tenologi, tujuannya untuk meningkatkan kualitas professional dan kompetensi.
3.      Tersedia materi pembelajaran yang berkualitas dan bermakna (meaningful)
(Munir, 2008)
Teknologi Pembelajaran tumbuh dari praktek pendidikan dan gerakan komunikasi audio visual. Teknologi Pembelajaran semula dilihat sebagai teknologi peralatan, yang berkaitan dengan penggunaan peralatan, media dan sarana untuk mencapai tujuan pendidikan atau dengan kata lain mengajar dengan alat bantu audio-visual. Teknologi Pembelajaran merupakan gabungan dari tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi pembelajaran dan pendekatan sistem dalam pendidikan.
Definisi Teknologi Pembelajaran
Rumusan tentang pengertian Teknologi Pembelajaran telah mengalami beberapa perubahan, sejalan dengan sejarah dan perkembangan dari teknologi pembelajaran itu sendiri. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi tentang Teknologi Pembelajaran yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan Teknologi Pembelajaran.
Definisi Association for Educational Communications Technology (AECT) 1963
“ Komunikasi audio-visual adalah cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama berkepentingan dengan mendesain, dan menggunakan pesan guna mengendalikan proses belajar, mencakup kegiatan :
(a) mempelajari kelemahan dan kelebihan suatu pesan dalam proses belajar;
(b) penstrukturan dan sistematisasi oleh orang maupun instrumen dalam lingkungan pendidikan, meliputi : perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen dan pemanfaatan dari komponen maupun keseluruhan sistem pembelajaran. Tujuan praktisnya adalah pemanfaatan tiap metode dan medium komunikasi secara efektif untuk membantu pengembangan potensi pembelajar secara maksimal.”
Kawasan Teknologi Pembelajaran
1. Kawasan Desain
Yang dimaksud dengan desain disini adalah proses untuk menentukan kondisi belajar dengan tujuan untuk menciptakan strategi dan produk. Kawasan desain bermula dari gerakan psikologi pembelajaran, terutama diilhami dari pemikiran B.F. Skinner (1954) tentang teori pembelajaran berprogram (programmed instructions).
Kawasan Desain paling tidak meliputi empat cakupan utama dari teori dan praktek, yaitu :
(1) Desain Sistem Pembelajaran;
(2) Desain Pesan;
(3) Strategi Pembelajaran;
(4) Karakteristik Pembelajar.
2. Kawasan Pengembangan
Pengembangan adalah proses penterjemahan spesifikasi desain ke dalam bentuk fisik, di dalamnya meliputi :
(1) teknologi cetak;
(2) teknologi audio-visual;
(3) teknologi berbasis komputer; dan
(4) teknologi terpadu.
Kawasan pengembangan berakar pada produksi media. Melalui proses yang bertahun-tahun perubahan dalam kemampuan media ini berakibat pada perubahan kawasan.
3. Kawasan Pemanfaatan
Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber untuk belajar. Fungsi pemanfaatan sangat penting karena membicarakan kaitan antara pembelajar dengan bahan atau sistem pembelajaran.
4. Kawasan Pengelolaan
Pengelolaan meliputi pengendalian Teknologi Pembelajaran melalui : perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan supervisi. Kawasan pengelolaan bermula dari administrasi pusat media, program media dan pelayanan media.
5. Kawasan Penilaian
Penilaian merupakan proses penentuan memadai tidaknya pembelajaran dan belajar, mencakup :
 (1) analisis masalah;
(2) pengukuran acuan patokan;
(3) penilaian formatif; dan
(4) penilaian sumatif .
Dalam kawasan penilaian dibedakan pengertian antara penilaian program, proyek , produk. Penilaian program – evaluasi yang menaksir kegiatan pendidikan yang memberikan pelayanan secara berkesinambungan dan sering terlibat dalam penyusunan kurikulum.
Peran Teknologi dalam Pendidikan
Teknologi sebagai salah satu media yang mempermudah kita dalam dunia pendidikan. Hal ini sangat berperan penting, terutama dalam memajukan mutu pendidikan pada masa sekarang ini.
Peran teknologi dalam pendidikan antara lain :
1.      Sebagai keterampilan (skill) dan kompetensi
2.      Sebagai infrastruktur pembelajaran
3.      Sebagai sumber bahan belajar
4.      Sebagai alat bantu dan fasilitas pembelajaran
5.      Sebagai pendukung manajemen pembelajaran
6.      Sebagai sistem pendukung keputusan
(Munir, 2008)

DAFTAR PUSTAKA
Munir. (2008). Kurikulum Berbasis Teknologi dan Informasi. Bandung: Alfabeta  
Psikologi Pendidikan dan Ragam Model Pembelajaran

RAGAM MODEL PEMBELAJARAN

1. Model Pembelajaran Langsung

Model pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk menunjang proses belajar siswa berkenaan dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Pembelajaran langsung tidak sama dengan metode ceramah, tetapi ceramah dan resitasi (mengecek pemahaman dengan tanya jawab) berhubungan erat dengan model pembelajaran langsung.

Ciri-ciri pembelajaran langsung :
a. Adanya tujuan pembelajaran dan prosedur penilaian hasdil belajar.
b. Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran.
c. Sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang mendunkung berlangsung dan berhasilnya
    pembelajaran.

Contoh-Contoh Model Pembelajaran Langsung
1.      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan mengahasilkan   pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan siswa memahami materi tersebut. Metoda  Tanya Jawab akan menjadi efektif bila materi yang menjadi topik bahasan menarik, menantang dan memiliki nilai aplikasi tinggi. Pertanyaaan yang diajukan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban), serta disajikan dengan cara yang menarik.
2.      Metode Tutorial/Bimbingan
Metode tutorial adalah suatu proses pengelolaan pembelajaran yang dilakukan melalui proses bimbingan yang diberikan/dilakukan oleh guru kepada siswa baik secara perorangan atau kelompok kecil siswa.

2. Model Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama, yakni kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuik mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah utnuk membangkitkan interaksi yang efektif diantara anggota kelompok melalui diskusi. Dalam hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi pelajaran, berdiskusi untuk memecahkan masalah (tugas).

Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

1). Siswa belajar dalam kelompok, produktif mendengar, mengemukakan pendapat, dan  
membuat keputusan secara bersama
2). Kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan
rendah
3). Jika dalam kelas terdapat siswa- siswa yang terdiri dari berbagai ras, suku, agama, budaya,
dan jenis kelamin yang berbeda, maka diupayakan agar dalam setiap kelompok pun terdapat
terdapat ras, suku, agama, dan jenis kelamin yang berbeda pula.
4). Penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok daripada kerja perorangan.

Contoh-Contoh Model Pembelajaran Kooperatif
1.      Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu cara mengelola pembelajaran dengan penyajian materi melalui pemecahan masalah, atau analisis sistem produk teknologi yang pemecahannya sangat terbuka. Suatu diskusi dinilai menunjang keaktifan siswa bila diskusi itu melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan
masalah.
2.      Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu cara pengelolaan pembelajaran di mana siswa melakukan aktivitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri suatu yang dipelajarinya.
3.      Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara pengelolaan pembelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, benda, atau cara kerja suatu produk teknologi yang sedang dipelajari.
4.      Metode Pemberian Tugas
Metode pemberian tugas adalah cara mengajar atau penyajian materi melalui penugasan siswa untuk melakukan suatu pekerjaan. Pemberian tugas dapat secara individual atau kelompok. Pemberian tugas untuk setiap siswa atau kelompok dapat sama dan dapat pula berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

 Anggota Kelompok :
Farah Oktamurdiantri (09-085)

Testimonial :
Kuliah on-line  sebenarnya sangat menarik jika kita terbiasa akan teknologi dalam kehidupan kita. Hanya saja metode ini belum bisa dilaksanakan sepenuhnya karena belum semua orang bisa terbiasa dengan teknologi.