twitter
rss


Tugas proyek kelompok sudah semakin dekat. Mungkin sedikit cerita dan pengalaman saya dengan Hana dan Lili bisa membantu teman-teman apa tugas proyek yang akan dilakukan nanti.

Hari minggu kemarin saya, Hana dan Lili mengikuti penyuluhan kebersihan di Kampung Nelayan. Sebagai orang yang berasal dari luar Medan, nama itu asing bagi saya. Ternyata itu adalah sebuah perkampungan diseberang Belawan.

Lama juga kami baru tiba disana. Setelah naik angkot selama satu jam lebih, kami masih harus menyebrangi laut untuk sampai ke lokasi. Perjalanan dengan sampan itu tidak mengerikan, tapi berjalan dengan titi (jembatan) kayu yang sepertinya lapuk cukup membuat saya ketakutan. Apalagi kami harus berjalan cukup jauh untuk mencapai sampan yang akan membawa kami ke lokasi.

Sesampainya disana, kami disambut dengan para panitia yang sudah menunggu kedatangan kami. Tapi bukan hanya itu. Banyak anak-anak kecil yang sudah hadir disana. Pikiran pertama yang muncul dikepala saya, “Aduh… Kenapa bnayak anak kecil?”

Saya tidak bisa protes. Jadi, saya hanya bisa pasrah dengan suasana penuh anak kecil yang berlari dan berteriak sana sini. Saya pun dibawa kerumah yang akan menjadi tempat tinggal saya selama disana. Ternyata, rumah itu cukup jauh dari tempat kami tiba. Melewati titi kayu (lagi!) yang sekarang lebih mengerikan dan ditambah lagi bergoyang jika ada yang melewatinya.

Akhirnya saya tiba di rumah Ibu Saodah, seorang ibu muda dengan 2 anak laki-laki, Ial dan Ijal. Untunglah dia cukup ramah sehingga membuat saya betah. Apalagi saya disuguhi kepiting pedas manis sebagai makan malamnya. Makanan yang mewah untuk anak kos seperti saya.

Esoknya, setelah sarapan pagi, saya harus melakukan kerja bakti membersihkan lingkingan dikampung itu. Buakn pekerjaan yang mudah karena hampir semua rumah disana penuh dengan sampah. Berkantong-kantong platik sampah sudah terkumpul tapi itu baru seperempat dari kampong tersebut. Masyarakat disana kurang peka dengan kebersihan. Mereka berpikir nantinya sampah-sampah itu akan terbawa jika arus pasang.

Tapi, ada satu hal yang mengubah paradigm saya tentang anak-anak kecil. Selama ini dalam pikiran saya, anak kecil identik dengan suara berisik, tangisan memuakkan, kenakalan, pokoknya hal-hal buruk lainnya. Ternyata pikiran kita bisa menipu diri kita sendiri.

Disana saya berkenalan dengan banyak sekali anak kecil. Mereka semua ramah-ramah dan tak segan membantu kami membersihkan sampah-sampah. Namun, ada 3 orang anak yang cukup dekat dengan saya pada waktu itu. Ternyata mereka bertiga bersaudara. Ada Nisma, Bobo dan Iwan. Tak tahu kenapa tapi kami bertiga menjadi akrab. Walaupun Nisma dan Bobo baru berusia 10 dan 9 tahun, tapi mereka bisa menjaga Iwan dengan baik. Saya sendiri saja tidak yakin bisa menjaga adik saya seperti itu.


Ki-Ka : Hana, Iwan, Saya, Bobo Nisma


Padahal sebelumnya saya tidak suka didekati oleh anak kecil. Tapi pada hari itu, saya tak segan menggendong Iwan yang tidak mau berjalan sendiri. Sampai pada akhirnya Iwan mengikuti saya pulang untuk mandi. Padahal rumahnya dan rumah saya tinggal itu cukup jauh. Tapi dia terus memegangi tangan saya. Saya jadi tak tega dan akhirnya saya ajak juga dia kerumah. Setelah saya mandi, saya antar dia kerumah. Untuglah dia mau tinggal dirumah dan tidak mengikuti saya lagi.

Nice experience, new paradigm. Selalu yang pertama buat semuanya. Dari pengalaman ini saya ingin berbagi. Berkenlan dengan orang asing tidaklah sulit. Bekerja sama dengan yang lebih muda atau anak-anak juga bukan hal yang buruk. Mungkin, untuk tugas proyek nati, bekerja dengan anak-anak akan menyenangkan.

Bagaimana menurut kalian?

2 comments:

  1. bgoz pai...

    Lanjutkan...

  1. lanjut kn

Posting Komentar